K H Achmad Sjaichu Kembali ke Pesantren

Mendirikan pesantren untuk mengembangkan dakwah Islamiyah merupakan salah satu cita-cita luhur KH. Achmad Sjaichu (Almarhum). Sebagai orang yang sejak kecil hidup dan dididik di lingkungan pesantren, wajar saja jika KH. Achmad Sjaichu bercita-cita untuk mendirikan sekaligus mengasuh pesantren. Siapakah KH. Achmad Sjaichu, pendiri dan pengasuh Pesantren Al-Hamidiyah ini ?

Nahdlatul Ulama (NU) – Politik – Dakwah, agaknya merupakan fase perjalanan hidup yang dilalui KH. Achmad Sjachu selama kurun waktu 1950 1980. Ittihadul Muballighin didirikan KH. Achmad Sjaichu untuk mengartikulasikan keinginannya yang besar dalam menangani kegiatan dakwah secara terkoordnasi, setelah ia tidak lagi sibuk dengan urusan organisasi dan politik. Berdirinya lembaga ini, mengawali fese ketiga, fase dakwah, dari kehidupan Sjaichu.

Kegiatan dakwah yang dikendalikan melalui Ittihadul Muballighin ini ternyata bukan merupakan fase terakhir yang dilalui KH. Achmad Sjaichu. Masih ada satu fase lagi, dan itu yang diharapkan KH. Achmad Sjaichu bisa menjadi penutup bagi perjalanan panjang kehidupannya. Mendirikan pesantren, dan langsung menjadi pengasuh bagi banyak santri, itulah fase terakhir yang dimaksud. Sjaichu agaknya menginginkan gelar kiai yang selama ini menempel pada namanya benar-benar fungsional.

Cita-cita untuk mendirikan pesantren juga sejalan dengan sasaran dari kegiatan praktis dakwah yang dilaksanakan melalui Ittihadul Muballighin selama ini. Melalui pesantren, ia ingin mengkader dai yang berwawasan luas dan memiliki kedalaman ilmu.

Para juru dakwah selama ini melakukan dakwah Islamiyah hanya dengan mengandalkan penguasaan ilmu agama saja. Wawasannya di bidang sosial, ekonomi, dan Iptek terbatas sekali. Sudah begitu, mereka melakukan dakwah dengan cara-cara yang kurang bijak. Malah tidak sedikit yang hantam kromo dan konfrontatif, kata KH. Achmad Sjaichu dalam peresmian Ittihadul Muballighin tahun 1978. Dengan mendirikan pesantren, KH. Achmad Sjaichu ingin memback up kemampuan dan wawasan kader da'i yang di anggap masih pas-pasan.

Motivasi yang besar untuk mendirikan sekaligus menjadi pengasuh pesantren sebenarnya tidaklah terlalu mengganggu pikirannya. Yang justru ikut membakar semangatnya untuk mendirikan pesantren adalah sang istri (almarhumah) Ny. Hj. Solchah. Rupanya, keinginan yang serupa juga ada pada istrinya. Sebelum wafat pada tanggal 24 Maret 1986, Hj. Solchah terus mendorong agar rencana mendirikan pesantren itu segera diwujudkan. Inilah rupanya yang lebih mendorong KH. Achmad Sjaichu untuk mendirikan pesantren.

Keinginan ada, kemampuan (ilmiah) ada, bekal juga ada. Lantas apalagi yang menghalangi untuk mendirikan pesantren? Demikian kata hati kecil KH. Achmad Sjaichu yang terus menggoda sejak awal tahun 1980.

Atas dasar itu, bulatlah tekad untuk mendirikan pesantren. Kebetulan pada saat yang sama, ada sebidang tanah di daerah Depok dijual dengan harga relatif murah. Tanah yang berlokasi di Desa Rangkepanjaya, Pancoranmas Depok itu pada tahun 1980 akhirnya dibeli. Di atas tanah ini, pesantren yang menjadi idamannya dan idaman almarhumah istrinya didirikan.

Karena beberapa kesibukan, juga persiapan yang belum cukup, pembangunan pesantren itu tertunda. Baru pada tahun 1987, dengan disaksikan para ulama dan tokoh masyarakat, Menteri Agama RI saat itu H. Munawir Sjadzali meletakan batu pertama, mengawali pembangunan pesantren. Oleh KH. Achmad Sjaichu pesantren itu diberi nama Al-Hamidiyah, dinisbatkan dengan nama ayahandanya, H. Abdul Chamid.

Sebenarnya, rencana mendirikan pesantren itu juga merupakan hasil pergumulan pemikiran KH. Achmad Sjaichu tentang masalah kelangsungan dan pewarisan khasanah kekyaiannya. Sebagai seorang ulama yang merasa sudah mulai uzur, ada keinginan untuk mempersiapkan calon pengganti. Dia menginginkan ada di antara puteranya yang mengikuti jejaknya sebagai Kyai. Suatu keinginan yang wajar dan mulia. Siapa?

Saat itu, putera lelaki tertua, Imam Susanto adalah tamatan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia dan sudah terlanjur menjadi dokter spesialis bedah. Adiknya Mochammad Sutjahyo menjadi insyinyur sipil dari Universitas Trisakti. Sedangkan putera nomor empat, Zainul Mujahidin lebih tertarik menjadi wiraswastawan.

Kedelapan putera-puteri KH. Achmad Sjaichu yang masih hidup (dua orang meninggal ketika masih bayi) tergolong berhasil dalam pendidikannya. Tetapi semuanya produk lembaga pendidikan umum. Puteri sulungnya, Mariyam Chairiyah lulusan FISIP Universitas Indonesia jurusan Kesejahteraan Sosial. Mariam Chairiyah ini di ambil menantu oleh Menteri Agama RI periode 1962-1966 (KH. Saifuddin Zuhri, Almarhum) untuk putera tertuanya Dr. H. Fahmi Saifuddin, M.Ph (Almarhum). Puteri nomor lima, Rachmawati (almarhumah) lulusan Universitas Trisakti dan UIN Jakarta. Adiknya, Zubaidah, lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Jayabaya. Sedangkan Farida, puteri nomor tujuh lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanegara.

Pilihan lalu jatuh pada putera bungsunya, Achmad Fauzi. KH. Achmad Sjaichu ingin membangun pesantren yang kelak akan di asuh oleh anaknya. Lulus dari SMP, Fauzi langsung dikirim ke pesantren Darul Rahman pimpinan KH. Syukron Makmun.

Bahkan sebelum itu, setiap menghadiri acara pengajian dan dakwah di berbagai tempat, Fauzi sering di ajak oleh KH. Achmad Sjaichu. Ketika masih aktif, KH. achmad Sjaichu memang punya kebiasaan mengajak putera-puterinya dalam kesempatan menghadiri undangan ceramah atau kegiatan lain, baik di dalam maupun di luar negeri. Tetapi, sebagai putera yang diproyeksikan untuk menggantikan kedudukannya, Fauzi terhitung paling sering diajak dalam kegiatan dakwah, dibanding dengan putera-puteri yang lain. Secara psikologis, sejak kecil Fauzi sudah dipersiapkan untuk mengadaptasi dunia dakwah dan pesantren. Kepada beberapa kyai, KH. achmad Sjaichu minta bantuan doa agar sang putera kelak bisa meneruskan kiprah perjuangnya sebagai ulama.

Toh akhirnya KH. Achmad Sjaichu harus tunduk juga dengan ketentuan manusia merencanakan, Tuhan yang menentukan. Setelah lima tahun belajar di Pesantren, Fauzi merasa tak kuat lagi meneruskan pendidikannya dan memenuhi keinginan sang ayah. Padahal selama lima tahun itu, ia sudah mendapat bekal ilmu pengetahuan agama yang cukup dan sangat berharga baginya. Fauzi berubah haluan, ia sekolah di SMA setelah lima tahun berada di pesantren. Kini ia adalah lulusan Fakultas Tehnik Jurusan Arsitektur Universitas Trisakti.

Menghadapi kenyataan seperti itu, rencana untuk mendirikan tak surut. KH. Achmad Sjaichu juga tak ingin memaksakan kehendaknya agar sang putera bersedia menjadi Kyai. Suatu sikap moderat KH. Achmad Sjaichu yang sejak dulu diterapkan dalam mendidik putera-puterinya.

Kalau anak-anak memang tidak berbakat menjadi kyai dan mengasuh pesantren, mengapa tidak saya saja yang mengasuh pesantren? Lagi pula, saya juga mampu dan ingin mengamalkan ilmu yang saya miliki, pikir KH. Achmad Sjaichu ketika menghadapi problem itu.

Tahun 1987 mulai dilaksanakan pembangunan pesantren. Pembangunan ditangani langsung oleh para putera dan menantunya (Dr. Fahmi). Bangunan fisik pesantren dirancang sendiri oleh Ir. H. Moch. Sutjahyo, Putera ketiga KH. Achmad Sjaichu. Selang delapan bulan, tepatnya tanggal 17 Juli 1988, pesantren mulai dibuka dan menerima santri. Di luar dugaan, ternyata banyak remaja di sekitar Depok dan Jakarta yang datang mendaftar sebagai santri. Pada tahun kedua, sudah mulai ada santri yang datang dari daerah lain di luar Depok dan Jakarta.

Hidup di lingkungan pesantren yang jauh dari polusi udara Jakarta dan berada di tengah-tengah santri sungguh merupakan kenyamanan tersendiri bagi KH. Achmad Sjaichu. Ia benar-benar merasa memperoleh ketenangan batin berada di lingkungan pesantren dan di tengah-tengah ratusan santrinya. Suatu kondisi yang tak pernah dialami selama ia di Jakarta. Lebih-lebih ketika masih sibuk dengan urusan politik.

Tahun 1989, karena merasa mendapatkan kesejukan rohani, ia memutuskan untuk hijrah dari kediamannya yang lama di daerah Slipi, Jakarta Barat ke rumah baru yang dibangun di komplek pesantren. Berada di lingkungan baru, kesehatan KH. Achmad Sjaichu yang sebelumnya sering terganggu mulai normal kembali.

Setahun sebelum KH. Achmad Sjaichu mendirikan pesantren, ia jatuh sakit karena kelebihan kadar gula yang cukup serius. Praktis sejak itu ia menghentikan aktivitasnya yang berat-berat, terutama kesibukannya memberi pengajian di luar. Dia merasa memperoleh obat dengan hidup di lingkungan pesantren.

Gelar Kyai yang sejak lama disandang, kini benar-benar bermakna riil bagi KH. Achmad Sjaichu, juga bagi para santrinya. Setiap Rabu malam, ia membacakan kitab al-Adzkar dan Fath al-Mu'in. Pada hari ahad pagi, ia membacakan kitab al-Ahkam al-Shulthoniyah. Ketiga kitab itu, hanya diperuntukan bagi para guru Al-Hamidiyah.

Irama kehidupan KH. Achmad Sjaichu kini makin didominasi oleh nuansa agama. Kegiatan rutin lain di samping mengajar kitab, adalah membaca al-Qur'an. Hampir setiap minggu sekali, ia menghatamkan al-Qur'an 30 juz.

Babak pertama dari upayanya untuk merealisasikan cita-cita mendirikan pesantren sudah terpenuhi. Kini ada babak kedua yang akan segera dimasuki, menyusul berdirinya pesantren. Saya ingin mendirikan Sekolah Tinggi Hukum Islam dan Dakwah di komplek Pesantren. Itu termasuk cita-cita lama saya yang belum kesampaian, ujarnya. Cita-cita itu akhirnya terwujud, kini di dalam lingkungan pesantren telah ada unit Sekolah Tinggi Agama Islam, walaupun pemanfaatan gedungnya masih bersama dengan pesantren.

Sebagai refleksi dari rasa kesyukurannya, KH. Achmad Sjaichu menyatakan keinginannya, jika nanti dipanggil oleh Yang Maha Kuasa untuk selama-lamanya, ia ingin dimakamkan di komplek pesantren. Dunia pesantren adalah tempat awal di mana ia menempa dirinya sebagai seorang Sjaichu. Meskipun pernah ditinggalkan selama hampir 40 tahun terhitung sejak ia meninggalkan pesantren Al-Hidayah Lasem, pesantren bukan menjadi dunia yang asing baginya. Setelah ia kenyang dengan dinamika kehidupan yang harus dilakoni sebagai seorang tokoh pada zamannya, ia ingin kembali ke dunia pesantren.

KH. Achmad Sjaichu ingin benar-benar kembali ke pesantren bukan hanya dalam pengertian fisik, melainkan juga kembali beserta jiwa raganya. Kembali ke pesantren, kembali ke tempat yang damai.