Karir K H Achmad Sjaichu

A.Merintis Home Industri Sepatu

Selesai mondok dari Lasem, Sjaichu mulai terlihat arif dan penuh semangat untuk berjuang li'ilai kalimatillah hiyal ulya. Sambil mengamalkan ilmu yang diperoleh dengan menjadi guru, Sjaichu membuka usaha toko sepatu di Kedung Rukem, sebelah selatan Pasar Blawuran. Sebagai modal awal, ia mendapat pinjaman dari kakeknya, H. Fadlun. Toko sepatu yang dirintis itu berkembang dengan pesat. Sepatu-sepatu yang dijual adalah produksi sendiri, yang dikerjakan Sjaichu bersama-sama karyawannya. Dulu, sebelum berangkat ke pesantren, ia pernah belajar membuat sepatu, juga belajar menjahit. Pada 5 Januari 1945, dalam usia 24 tahun, Sjaichu mempersunting gadis dari Kedung Tarukan, Pacar Keling, Surabaya. Gadis itu Solchah, adalah puteri Muhammad Yasin, penjahit kondang di Pacar Keling, bekas majikannya dahulu. Bersama Solchah, Sjaichu mengembangkan Home Industri sepatunya. Ada sekitar 15 karyawan bekerja membantu usahanya. Sedang Sjaichu, selain ikut bekerja secara teknis, juga tak henti-hentinya berusaha membuka akses pasar, khususnya di wilayah Surabaya. Usaha dagang sepatu agaknya bukan tujuan utamanya. Pekerjaan itu hanya berfungsi sebagai batu loncatan untuk mencapai sesuatu yang lebih besar. Tradisi musafir pencari ilmu di Pesantren tetap saja berkobar di benak Sjaichu. Di sela-sela kesibukannya berdagang sepatu, ia menyempatkan diri mengajar bahasa Arab dan bahasa Inggris kepada pemuda-pemuda Surabaya yang rajin datang ke rumahnya. Kursus bahasa ini masih juga dikenang oleh banyak orang di Surabaya.

B.Mendirikan PGPS di Bangil

Ketika Surabaya mulai berkecamuk, terutama menjelang pertempuran 10 November 1945, nama Sjaichu memang tak dikenal di kalangan Laskar Hizbullah atau Barisan Sabilillah. Namun, saat itu Sjaichu bergabung dengan pemuda Surabaya. Ketika Surabaya bergejolak dan terjadi agresi militer Belanda pada tahun 1947, pemuda Surabaya banyak yang hijrah ke daerah lain, termasuk Sjaichu. Waktu itu, Sjaichu mengungsi ke Waru, Sidoarjo bersama istrinya, Solchah yang sedang hamil 7 bulan untuk puteri pertamanya. Selama di sana, ia ditampung di rumah pak Abdullah, kenalannya yang menjadi pemasok kulit kambing dan sapi ketika Sjaichu membuat dan berdagang sepatu. Baru beberapa saat di Waru, Belanda sudah merambah dan menghujani kota itu dengan bom dan meriam. Terpaksa Sjaichu mundur lagi, dan bersama istrinya yang hamil tua menuju Bangil, Pasuruan. Sesampainya di Bangil, Sjaichu berjumpa dengan Farchan Ali, pemuda pemberani asal Boto Putih, Surabaya. Mula-mula ia bergabung ke dalam Barisan Pemuda Surabaya (BPS). Bersama Farchan Ali, Sjaichu mengadakan pertemuan intensif dengan beberapa pemuda lain yang berada di Bangil. Atas prakarsa mereka berdua, dibentuklah Persatuan Gabungan Perjuangan Surabaya (PGPS) yang bermarkas di Bangil. Farchan ditunjuk sebagai ketuanya, sedangkan Sjaichu sebagai wakilnya. Dibentuknya PGPS ini bertujuan untuk mengkoordinasi pemberian bantuan tenaga terlatih yang siap berjuang dan bertempur di Surabaya. Kegiatan PGPS yang sesungguhnya waktu itu adalah latihan ala militer bagi pemuda pejuang yang akan bergabung ke dalam barisan tentara militer. Pada sore dan malam hari, mereka dilatih baris berbaris dan cara menggunakan senjata. Mereka digabungkan ke dalam tentara nasional yang berpusat di Mojosari, Mojokerto, di bawah komando Mayor Isa Idris (almarhum) dari divisi Brawijaya. Pada bulan Juli 1947, setelah bergerak selama satu setengah tahun, PGPS dibubarkan karena kota Bangil diserbu tentara Belanda. Anggota PGPS banyak yang ditangkap, sebagian ditawan, dan sebagian lagi ditembak mati oleh Belanda. Ketika berada dalam pengungsian di Bangil, tanggal 2 Februari 1946, lahirlah puteri pertama Sjaichu-Solchah, seorang bayi mungil yang cantik. Puteri itu diberi nama Maryam Chairiyah.

C.Mulai dari Ranting Nahdlatul Ulama (NU)

Karang Menjangan Tahun 1948, situasi kota Surabaya sudah benar-benar aman.Sekembalinya dari tempat pengungsian, Sjaichu mengajar selama dua tahun di Madrasah NU yang didirikan oleh KH. Romli di Karang Menjangan. Cita-cita menjadi seorang tokoh dan pemimpin mulai jelas sejak ia mengabdikan diri menjadi guru di Madrasah NU. Saya ingin menjadi tokoh, saya ingin memimpin, pikirnya menerawang. Sejak itu, Sjaichu mulai melibatkan diri ke dalam kegiatan NU. Pengalaman memimpin organisasi NU dimulai dari bawah sekali. Mula-mula ia menjadi Ketua Ranting NU Karang Menjangan, suatu jabatan struktur paling bawah dalam NU. Memasuki tahun 1950, sambil aktif di organisasi, Sjaichu mendaftarkan diri untuk menjadi pegawai pemerintah. Ia diterima di kantor Pengadilan Agama Surabaya dan menjabat sebagai Wakil Kepala. Hanya setahun bekerja di Pengadilan Agama, tugasnya dipindah ke Kantor Agama Kotapraja Surabaya. Di sini ia bekerja hingga tahun 1953. Setelah itu ia ditarik ke kantor Departemen Agama Wilayah di bagian kepenghuluan samapai tahun 1956. Disamping menjadi pegawai Departemen Agama, Sjaichu tetap aktif di organisasi. Karir Sjaichu di organisasi rupanya meningkat cukup cepat. Dalam waktu relatif singkat, nama Sjaichu mulai dikenal dikalangan tokoh-tokoh NU Surabaya. Pada periodeisasi NU Surabaya tahun 1948 1950, Sjaichu terpilih sebagai Ketua Umum Konferensi, yang bertugas khusus merancang penyelenggaraan konferensi. Selain itu, ia juga terpilih sebagai salah satu Ketua Dewan Pimpinan Umum (Tanfidziyah). Sederat dengan nama KH. Thohir Bakri, KH. Thohir Sjamsuddin, dan KH. A. Fattah Jasin. Masih segar dalam ingatan warga NU Surabaya, bahwa pada Konferensi II NU Cabang Surabaya, tanggal 16-17 Desember 1950, tokoh muda NU, Achmad Sjaichu tampil di depan podium (sebagai Ketua Umum Dewan Pimpinan NU), menguraikan perjalanan NU Cabang Surabaya. Di sinilah nama Sjaichu mulai dikenal di kalangan luas, terutama kalangan warga NU. Pada tahun itu pula, Sjaichu ditunjuk sebagai anggota DPRDS Kota Besar Surabaya. Karir Sjaichu sebagai politisi, dirintis dari sini. Nama Sjaichu kian populer. Setelah NU berpisah dari Masyumi dan berdiri sebagai parpol, ketokohan Sjaichu semakin mencuat. Pada tahun 1953, ia terpilih sebagai Ketua LAPANU (Lajnah Pemilihan Umum NU) daerah pemilihan Jawa Timur. Berarti, Sjaichu sudah meninggalkan kepengurusan Cabang Surabaya dan mulai naik ke tingkat Provinsi. Sebagai ketua LAPANU, peran Sjaichu semakin luas dan strategis. Bukan saja harus berhubungan dengan Pemerintah Daerah, melainkan juga berhubungan dengan pengurus NU di Ibu Kota. Hampir semua tokoh NU di Jawa Timur kala itu hanya mengenal Sjiachu sebagai pemimpin NU.

D.Menjadi Ketua DPRGR RI

Menjelang Pemilu pertama, tanggal 29 September 1955, seluruh kontestan sibuk melaksanakan kampanye. Achmad Sjaichu sebagai ketua LAPANU tak henti-hentinya berkeliling daerah mengadakan kampanye. Dan benar, hasil pemilu 1955 cukup mengejutkan, partai NU dinyatakan sukses dan keluar sebagai the big four. Nama Sjaichu kala itu tercantum sebagai calon anggota DPR (bersama Abdul Aziz Diyar) dari daerah pemilihan Jawa Timur. Karena terpilih sebagai anggota DPR, pada awal tahun 1956, Sjaichu resmi pindah ke Jakarta. Di Jakarta karir politiknya kian melangit, dan pada rapat fraksi NU tanggal 25 November 1958, Achmad Sjaichu terpilih sebagai Ketua Fraksi NU dalam DPR RI periode 1958-1960. Selama di Jakarta dan menjadi anggota DPR RI, Achmad Sjaichu telah ├óÔé¼┼ômengaji politik lewat kejadian-kejadian penting, mulai dari pembentukan kabinet setelah pemilu, sampai ke soal sidang Konstituante. Bagi Sjaichu, dari pemilu 1955 inilah ia akhirnya naik ke pentas politik nasional. Sebab, sejak itulah ia terpilih sebagai anggota DPR RI dari partai NU. Dari anggota DPR inilah ia akhirnya bisa dengan lancar menapakkan karir politiknya di parlemen Indonesia. Misalnya, setahun setelah menjadi anggopta DPR, ia pun segera naik menjadi Ketua Fraksi NU di tahun 1957. Bahkan Achmad Sjaichu akhirnya sampai meraih puncak karir di parlemen, setelah ia terpilih menjadi Ketua DPRGR pada tahun 1966, setelah 15 tahun berkecimpung di DPR. e.Sebagai Ketua PBNU, anggota Rabithah Alam Islamy, dan anggota Dewan Masjid se Dunia Sebagai anak tiri pendiri NU, Achmad Sjaichu banyak mendapat kemudahan dalam karirnya kemudian. Pada tahun 1950, ia terpilih menjadi anggota dewan kota Surabaya, pada tahun 1955 menjadi anggota parlemen nasional sebagai wakil NU Jawa Timur. Memimpin kelompok NU di perlemen selama tahun 1958-1960, ia terpilih menjadi wakil ketua parlemen dari tahun 1963-1966. Kemudian ia dipilih kembali menjadi anggota parlemen dalam pemilu tahun 1971. Pertama kali menjadi pengurus Tanfidziyah PBNU pada tahun 1957, dan dari tahun 1977-1979 menjabat sebagai Ketua PBNU. Setelah mengundurkan diri dari politik, H. Achmad Sjaichu beralih ke aktivitas-aktivitas dakwah, melalui sebuah organisasi baru, Ittihadul Mubalighin yang didirikan pada tahun 1978, dan sejak saat itu dia menjadi ketuanya. Dari semua politisi NU, tidak diragukan lagi H. Achmad Sjaichu adalah orang yang mempunyai kontak internasional dengan dunia muslim. Ia lama menjabat sebagai birokrat internasional. Dialah yang mengambil prakarsa mengorganisir Konferensi Islam Asia Afrika, yang akhirnya diselenggarakan pada tahun 1965, dia juga menjadi Presiden Organisasi Islam Asia-Afrika yang lahir dari konferensi tersebut dan terus berlanjut pada tahun 1973. Sejak saat itu H. Achmad Sjaichu aktif dalam organisasi Rabithah al-Alam al-Islami (Liga dunia Islam) dan Dewan Tertinggi Masjid Dunia di Makkah.

F.Membangun Solidaritas Umat di Kawasan Asia Afrika

Mempersatukan umat di kawasan Asia-Afrika?Kenapa tidak, pikir H. Achmad Sjaichu. Pikiran itu terus menggodanya sejak berlangsung Konferensi Asia-Afrika di Bandung, tanggal 18-25 April 1955. Mempersatukan umat Islam Asia-Afrika bukan dalam pengertian politik, melainkan dalam himmah, dalam solidaritas, atau ukhuwah Islamiyah. Pikiran semacam itu memang bukan hanya monopili H. Achmad Sjaichu. Beberapa tokoh Islam lain juga punya gagasan yang sama. Mereka sama-sama mendambakan bangkitnya persatuan umat Islam, setelah sekian lama dunia Islam hidup di bawah kekuasaan koloni. Imperalisme dan kolonialisme merupakan dua kata dan tragedi dunia yang dirasakan amat menyayat hati bangsa-bangsa di beberapa negara berkembang saat itu. Pikiran H. Achmad Sjaichu mengenai persatuan umat Islam Asia-Afrika dalam dataran peta politik dalam negeri mendapat peluang bagus. Sebab, penggalangan solidaritas politik Asia-Afrika mendapat prioritas tinggi di dalam politik luar negeri Indonesia waktu itu. Konferensi Asia-Afrika yang diselenggarakan di Bandung tahun 1955 rupanya menjadi tonggak penting bagi bangkitnya Islam di Indonesia dan negara-negara Islam di Asia-Afrika. Konferensi itu ikut mendekatkan ide H. Achmad Sjaichu menjadi kenyataan. Sebagaimana diketahui, konferensi Asia-Afrika merupakan embrio dari Konferensi Islam Asia-Afrika yang diselenggarakan di Bandung tanggal 6-14 Maret 1965. Melalui konferensi ini lahirlah Organisasi Islam Asia-Afrika (OIAA). H. Achmad Sjaichu dalam konferensi Islam Asia-Afrika dipercaya menjadi Sekretaris Jenderal. Demikian pula ketika KIAA membentuk OIAA, Beliau dipilih sebagai Presiden Dewan Pusat OIAA dan dikukuhkan oleh Presiden Soekarno. H. Achmad Sjaichu sendiri tidak tahu mengapa ia yang dipilih sebagai Presiden OIAA. Tapi, menurut kawan seperjuangannya bahwa technical skill yang dibutuhkan bagi seorang yang memimpin organisasi level Internasional sudah dikantongi H. Achmad Sjaichu. Di samping kemampuan berbahasa asing, beliau juga dikenal pintar mengadakan lobbi.

G.Mendirikan Ittihadul Muballighin

Pada tanggal 27 Ramadhan 1398 H, atau bertepatan dengan tanggal 31 Agustus 1978, sekitar 100 orang berkumpul di Pondok Pesantren At-Thahiriyah, Jakarta Selatan. Mereka ada yang datang dari Singapura, ada para muballigh yang berkumpul untuk mengadakan reuni. Sjaichu ikut serta dalam pertemuan itu. Di akhir pertemuan, para muballigh yang hadir menyepakati dibentuknya sebuah lembaga dakwah independen yang diberi nama Ittihadul Muballighin (Persatuan para Muballigh). H. Achmad Sjaichu, sang pemberi nama tersebut ditunjuk secara aklamasi sebagai pemimpinnya. Melalui Ittihadul Muballighin, H. Achmad Sjaichu bisa menyalurkan dua aspek sekaligus. Pertama, kebiasaan dan tradisi hidup dalam tatanan organisasi. Kedua, merealisasikan idenya untuk meningkatkan kualitas hidup ummat melalui kegiatan dakwah. Aspek yang terakhir ini merupakan obsesi lama yang tertunda oleh berbagai kesibukan politik H. Achmad Sjaichu. Dunia dakwah bukan dunia baru sama sekali bagi H. Achmad Sjaichu. Kegiatan di OIAA dan aktivitas dalam organisasi internasional sebetulnya juga merupakan implementasi kegiatan dakwah, meskipun dalam skala makro dan tidak bersifat praktis, terlebih ketika di Nahdlatul Ulama (NU). Berbekal pengalaman organisasi selama di DPRGR, OIAA, maupun di NU, H. Achmad Sjaichu tidak mengalami kesulitan mengelola Ittihadul Muballighin. Beliau mendapat dukungan penuh dari kawan-kawannya yang berprofesi sebagai da'i untuk memimpin selama tiga periode. Lembaga inilah yang pada akhirnya mengantarkan Sjaichu pada terminal pengabdian terakhirnya, yaitu dunia pesantren. Sebuah terminal yang tidak semua orang, lebih-lebih kaum politisi bisa menggapainya. Beliau menjadi seorang Kyai dengan ratusan santri. Ia memangku Pesantren Al-Hamidiyah di Depok. Inilah maqom terakhir dari episode perjalanan hidup H. Achmad Sjaichu, sebuah akhir perjalanan panjang yang nyaman.