2017-09-06 00:51:05

Masa Sekolah K H Achmad Sjaichu

Achmad Sjaichu mula-mula di sekolahkan di sekolah Mardi Oetomo, kemudian pindah ke Madrasah Taswirul Afkar yaitu sebuah lembaga pendidikan yang didirikan oleh KH. Abdul Wahab Chasbullah, KH. Mas Mansur dan KH. Dachlan Achyat. Madrasah ini kemudian dikenal sebagai embrio NU setelah Nahdlatul Wathan di Kawatan, Surabaya. Sjaichu belajar di sekolah ini hingga tamat, tahun 1934. Masa remaja Sjaichu memang unik. Tamat dari Nahdlatul Wathan, Sjaichu melamar bekerja di bengkel Marina milik Angkatan Laut Republik Indonesia di Surabaya. Bengkel ini melakukan pekerjaan dan menangani kapal perang milik Angkatan Laut. Sjaichu diterima bekerja di bagian listrik. Sambil bekerja, Sjaichu mulai melakukan dakwah kepada teman sekerja. Beberapa karyawan bengkel Marina mendapat bimbingan shalat dan pelajaran dasar agama Islam dari Sjaichu. Karena itu ia disenangi kawan-kawan sekerjanya. Tak lama Sjaichu bekerja di bengkel milik Angkatan Laut itu, Sjaichu keluar. Suatu ketika ia mengalami pengalaman spiritual yang tak bisa dilupakan. Pada saat itu di siang hari, ketika tidur-tiduran di rumah, Sjaichu bermimpi berjumpa dengan Nabi Muhammad sallallahu'alaihiwa sallam di Masjid Ampel. Nabi Muhammad, dalam gambaran mimpinya mengambil selembar tikar dan menyerahkan kepada Sjaichu. Setelah tikar diterima, Sjaichu membentangkan tikar tersebut di depannya, dan Rasulullah naik ke mimbar menyampaikan khutbah. Saat itulah Sjaichu terjaga dari tidurnya. Pengalaman mimpinya diceritakan kepada ayah tirinya, KH. Wahab Chasbullah. Kepada ayahnya itu ia juga minta izin untuk berhenti bekerja dari bengkel Marina. Saya ingin belajar dan mengaji lagi untuk memperdalam pengetahuan agama, Ayah, kata Sjaichu memohon.K.H. Wahab menyetujui dan menyarankan agar ia mondok ke Lasem, berguru kepada K.H. Ma'shum yang lebih dikenal dengan sebutan Mbah Ma'shum. Tahun 1938 Sjaichu dikirim ke Pondok Pesantren Al-Hidayah, Lasem, Rembang dan langsung diterima dengan tangan terbuka oleh Mbah Ma'shum (Almaghfurlahu). Mbah ma'shum merasa mendapat titipan dari orang yang selama ini disegani, KH. Abdul Wahab Chasbullah. Selama nyantri di Pesantren Al-Hidayah, Sjaichu tergolong santri yang disayang Mbah Ma'shum. Bukan hanya karena ia putera tirinya KH. Wahab Chasbullah, tetapi kesungguhan belajar dan penampilan Sjaichu yang kalem namun meyakinkan itu, berhasil menarik perhatian khusus gurunya. Ketika para santri memilih Lurah Pondok (mungkin sekarang semacam ketua Osis, red), Sjaichu menjadi santri yang dipilih. Disinilah sosok kepemimpinan sjaichu mulai tampak. Sjaichu merasa beruntung sekali menjadi santrinya Mbah Ma'shum saat itu. Ke mana gurunya pergi, Sjaichu diajak serta. Shalat, merupakan tema yang memperoleh perhatian dan tekanan tersendiri bagi Mbah Ma'shum dalam setiap ceramahnya. Kaum muslimin bisa memperoleh kehidupan dengan baik dan maju, jika menjalani kehidupan berlandaskan shalat yang dilaksanakan secara disiplin. Pernyataan itu sering disampaikan Mbah Ma'shum dalam ceramahnya.