2018-05-23 04:31:50

Nostalgia Pesantren Al-Hamidiyah Oleh K H A Mahfudz Anwar

Depok, Pesantren Al-Hamidiyah dulu dan Sekarang. 

Tiga puluh tahun yang lalu tepatnya 17 juli 1988 berdiri Pesantren Al- Hamidiyah di tengah perkampungan yang sepi. Kampung Kekupu, Rangkepan Jaya, Kec. Pancoran Mas. 

Akses menuju Pesantren melalui jalan Depok-Sawangan masih belum bagus seperti sekarang. Kendaraan umum masih sepi sekali. Hanya sesekali angkutan umum lewat. Berupa angkot yang masih lubang bagian belakang, bukan pintu dari samping. Sekitar satu jam sekali baru ada yg lewat. Dan sesekali ada Bus yg datang dari Lebak Bulus. 

Anak-anak yang sekolah di MTs dan MA ada yg mukim dan Pergi Pulang (PP). Mereka tidak diharuskan mukim. Sehingga jumlah yg PP lebih banyak dari pada yang mukim. 

Kanan kiri masih banyak kebun dan pohon-pohon yang rimbun menghijau. Di depan tepatnya di maharaja masih berupa sawah dan empang. 

Jika malam masih terasa sunyi dan senyap. Betul-betul terasa di kampung. Anak-anak santri Al-Hamidiyah rata" khusyu' dan tawadlu'. Pakaian sarung dan peci menjadi pemandangan sehari-hari. 

Tidak pernah ada kegaduhan ataupun bising. 

Di jam-jam belajar sering terdengar suara ngaji naghom bersama-sama. Juga suara merdu yg bertalu-talu hafalan nafzam imrithi ataupun nadzam alfiyah. 

Di setiap malam jum'at dikumandangkan tahlil dan Yasin melalui Pengeras suara Masjid yg terdengar keras, seakan tak ada suara laen yg menyainginya. 

Ba'da Isya' baca Rawi, Diba'. Syaraful anam. Ataupun Barzanji. Kecuali yg senior ngaji Madarijus su'ud. 

Seiring perjalanan waktu, kini Pesantren Al-Hamidiyah layaknya berada di tengah kota. Depan yg dulu sawah kini menjadi Mall DTC (Depok Town Center). Beberapa supermarket juga tumbuh di sekitarnya. Beberapa makanan frenchise juga tumbuh bak jamur. 

Santri yang mukim (dan kini memang mukim semua) sangat mudah belanja barang-barang mewah atau kuliner yg modern. Hal ini sangat berbeda dengan dulu yang hanya makanan lokal, seperti bakwan, lontong isi ataupun timun suri yg menjadi khas buah Depok.

Anak-anak santri sekarang pun juga tidak lagi naik angkot, tapi mobil pribadi. Sesekali halaman pesantren melimpah mobil-mobil mewah. Apa lagi musim pengambilan Raport. Jalan semulus itu pasti macet dibuatnya. 

Pesantren yg didirikan oleh alm. K. H. Achmad Sjaichu ini terus berkembang dan semakin maju. Jumlah santri yang masuk selalu berkejaran dengan kapasitas asrama. Ataupun kapasitas ruang kelas. 

Bahkan Pesantren ini menjadi salah satu destinasi para orang tua santri dalam mengisi hari" liburnya. 

Alumninya? Jangan tanya lagi. Sebab mereka sudah bertebaran di seantero negeri ini. Dan sudah banyak yg sukses di tengah-tengah masyarakat. 

Walhamdulillah. 

Semoga terus berjaya. 

(A. Mahfudz Anwar)