SANTRI KECIL, KETELADANAN BESAR: SEBUAH KEBAIKAN YANG TUMBUH DARI KESADARAN
Jumat, 28 Agustus 2026 Oleh MUhammad Yasir | 141 views
Depok, 28 Agustus 2026 — Aula 205–207 perlahan lengang. Puncak kegiatan Maulid Nabi Muhammad saw., sekaligus penyerahan hadiah Lomba Maulid dan Lomba 17-an, telah usai. Para santri kelas 1–6, guru, FKOS, dan wali santri satu per satu meninggalkan ruangan.
Sekitar pukul 15.00 WIB, ketika sebagian besar peserta bersiap pulang, seorang santri kelas 1 justru masih berada di aula. Tubuhnya mungil, tetapi tangannya sibuk memunguti bungkus snack, tisu, dan sampah kecil yang tertinggal. Ia tidak menunggu perintah ataupun perhatian. Ia melihat sampah, lalu mengambilnya.
Di belakangnya, sang ayah duduk di atas karpet, memberi semangat sekaligus membantu menerima hasil pungutannya. Sebuah pemandangan sederhana yang menunjukkan bahwa pendidikan karakter sering kali tumbuh bukan dari nasihat panjang, melainkan dari kebiasaan dan teladan yang hadir dalam keseharian. Menariknya, ini bukan kali pertama ia melakukan hal serupa. Ada kebiasaan baik yang mulai tumbuh menjadi kesadaran: menjaga kebersihan adalah tanggung jawab bersama.
Aksi tersebut kemudian terlihat oleh para guru. Hari itu, teladan datang dari muridnya. Santri kecil itu mungkin belum memahami istilah character-building, tanggung jawab sosial, atau kepedulian lingkungan. Namun ia telah mempraktikkannya. Ia memahami dengan caranya sendiri bahwa apa yang kita gunakan juga menjadi tanggung jawab kita untuk menjaganya.
Satu bungkus snack memang tampak sepele. Namun ketika seorang anak memilih memungutnya tanpa diminta, di sana sedang tumbuh sikap peduli, bertanggung jawab, dan berinisiatif. Karakter memang tidak selalu terlihat dalam prestasi besar. Ia bisa hadir melalui tindakan sederhana: membantu tanpa diminta, memperbaiki sesuatu yang tidak semestinya, dan melakukan kebaikan meski tidak ada yang menyaksikan.
Itulah yang dilakukan Muhammad Ghassan Zulmi, putra Bapak Mirza Zulmi Nurisman dan Ibu Tyas Aryunani, sore itu. Tidak ada panggung, mikrofon, tepuk tangan, ataupun hadiah. Hanya seorang anak kecil yang memilih melakukan apa yang diyakininya benar.
Ketika kegiatan berakhir, para santri pulang membawa cerita masing-masing. Namun Ghassan meninggalkan sesuatu yang jauh lebih berharga: sebuah teladan bahwa kebaikan dapat dimulai dari hal sederhana, dilakukan dengan kesadaran, lalu menginspirasi orang lain.
Terima kasih, Muhammad Ghassan Zulmi. Semoga kebaikan kecil yang engkau lakukan hari itu tumbuh menjadi karakter baik yang menyertai langkahmu hingga dewasa. Dan semoga tangan kecilmu yang hari ini ringan memungut sampah, kelak menjadi tangan yang ringan menolong sesama.
Dituliskan oleh:
Ira Asmara
Kepala TPQ Al-Hamidiyah