Yayasan Islam Al-Hamidiyah
Berita
Home / Berita

Mengenang Sosok Almarhum Prof. Dr. K.H. Ali Yafie

Minggu, 26 Februari 2023 Oleh Kajis 1077 kali

Innā li-llāhi wa-innā ʾilayhi rājiʿūn. Kabar duka menyelimuti umat Islam Indonesia. Seorang ulama besar yang pernah menjabat sebagai ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan  Rais ‘Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Prof. Dr. K.H. Ali Yafie wafat pada Sabtu (25/2/2023) pukul 22.13 WIB.

Kiai Ali Yafie juga merupakan penasihat atau Mustasyar Yayasan Islam Al-Hamidiyah Depok. Beliau dikenal sebagai intelektual muslim yang tidak hanya memikirkan permasalahan pada zamannya. Akan tetapi, dengan pendekatan fikih dan literatur kitab kuning yang dikuasainya, beliau mampu merumuskan sebuah pemikiran dengan sangat brilian dan visioner.

Tak heran, pemikiran Kiai Ali Yafie diterima banyak lapisan masyarakat baik awam maupun akademik. Di antara karyanya; Teologi Sosial: Telaah Kritis Persoalan Agama dan Kemanusiaan (1997), Etika dan Moral Kepemimpinan (2003), Rapatkan Barisan Untuk Kebangkitan Indonesia Raya: Dokumen Perenungan Nasib Bangsa (2004), Merintis Fiqh Lingkungan Hidup (2006) dan lainnya.


Pada 19 Juli 1998, Pesantren Al-Hamidiyah pernah memperingati 10 tahun milad pesantren. Serangkaian acara banyak dilaksanakan salah satunya seminar sehari “Dinamika Pesantren dalam Menghadapi Era Globalisasi”. Para Pembicara dalam seminar itu antara lain Prof. K.H. Ali Yafie, Prof. Dr. Azyumardi Azra, Drs. M. Habib Chirzin, dr. Fahmi D. Saifuddin MPH, K.H. Drs. M. Hamdan Rasyid, MA, dan Drs. K.H. A. Mahfudz Anwar.

Para pembicara menyepakati bahwa di masa yang akan datang, peran dari pesantren sangat penting dalam membentengi umat dari krisis terutama krisis moral atau akhlak. Oleh sebab itu, metode pendidikan dan kurikulum yang digarapnya harus bisa menjawab tantangan di masa datang yang semakin kompleks.   

 

Pentingnya Kedisiplinan

Bagi Prof. Dr. K.H. Ali Yafie disiplin merupakan ibadah. Dalam wawasan dan pola kehidupan awam dan tradisional, ibadah hanya dipahami sebatas ibadah ritual, sedangkan ibadah sosial kemasyarakatan hampir-hampir tidak dikenal. Akibatnya, fardhu kifayah sangat kurang mendapatkan perhatian dan umat Islam belum mampu mengembangkannya dan menjabarkannya dalam pola kehidupan modern. Padahal hal itu dapat dituangkan dalam program-program yang nyata dan relevan.

“Untuk memajukan umat kita dalam rangka pembangunan nasional bangsa kita maka partisipasi umat dalam penegakan disiplin nasional yang didukung oleh kesadaran moral dalam keimanan dan ketaqwaan adalah kunci suksesnya pembangunan bangsa kita,” tutur sosok kelahiran Donggala, Sulawesi Tengah pada 1 September 1926 itu.

Pemikiran brilian Kiai Ali Yafie tersebut dituangkan dalam artikel berjudul Kedisiplinan dalam Islam yang dimuat dalam lampiran buku Mengenal Pesantren Al-Hamidiyah, Didirikan tahun 1408 H/1988 M Oleh Almaghfurlah K.H. Achmad Sjaichu (Depok, 1998: 99-109). Makalah tersebut awalnya menjadi bahan ceramah umum beliau pada Pembukaan Kuliah Tahun Akademik 1995/1996 Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah Al-Hamidiyah atau STIDA (Kini Sekolah Tinggi Agama Islam atau STAI Al-Hamidiyah) Jakarta.

 


Pendidikan dalam Islam

Jika ditelusuri lebih jauh lagi, pemikiran Kiai Ali Yafie juga banyak terkait dengan dunia pendidikan. Majalah Warta Al-Hamidiyah edisi 44/Tahun XI/2011 memuat tulisan beliau dengan judul Mendidik Anak Sesuai dengan Zamannya. Imam Al-Ghazali pada saat menulis kitab Ihya Ulumiddin di abad kelima hijriyah, tulis Kiai Ali Yafie, pada masa itu sudah zaman teknologi Islam.

Al-Ghazali mengatakan, jangan heran kalau kami berpendapat bahwa ilmu matematika dan ilmu kedokteran itu merupakan bagian dari fardhu kifayah. Inilah yang dimaksud oleh Al-Ghazali selain pendidikan agama, mendidik anak harus sesuai zamannya.

“Pesantren sekarang sudah sesuai dengan apa yang digambarkan oleh Al-Ghazali. Setahu saya, di Indonesia sudah cukup banyak pesantren yang sudah terbuka wawasannya, termasuk Pesantren Al-Hamidiyah Depok, untuk menyesuaikan pola tersebut. Jadi Pesantren Al-Hamidiyah proses pembelajarannya sudah tepat,” tutur Kiai Ali Yafie.

 

Introspeksi dan Konsisten

Pada Senin, 11 Mei 1998, Husnul Hathari reporter Warta Al-Hamidiyah berkesempatan melakukan wawancara khusus dengan Prof. Ali Yafie. Di akhir sesi, Kiai Yafie berpesan bahwa dalam menghadapi dan upaya menanggulangi krisis ini kita semua harus bersifat ekstra dewasa, arif, dan bijaksana serta ekstra hati-hati dalam berbicara dan bertindak. Jangan sampai pembicaraan dan tindakan kita akan memperkeruh dan memperpanjang situasi prihatin yang sedang dihadapi.

Bagi Kiai Ali Yafie, krisis yang bermula dari krisis ekonomi tersebut merambah kepada krisis kepercayaan yang pada hakikatnya bermuara pada krisis moral atau akhlak. “Untuk itu, mari kita melakukan introspeksi pada diri kita masing-masing. Ketika kita menyadari kesalahan dan kekhilafan kita, maka marilah kita dengan segera memperbaiki kesalahan-kesalahan tersebut,” ungkap beliau.

“Kita juga harus tetap konsisten memperbaiki hal-hal yang bersifat munkarat (merusak), namun,” lanjut ulama fiqh dan mantan Ketua Majelis Ulama Indonesia ini, “Jangan sampai jalan yang kita ambil dalam mencegah dan memperbaiki kemunkaran itu akan memimbulkan kemunkaran-kemunkaran yang lain”.

Selamat jalan, Kiai Ali Yafie. Kiprah, perjuangan, dan pemikiran Kiai sangat bermanfaat bagi umat Islam secara luas. Semoga Allah SWT mengampuni segala kesalahan dan membalas segala kebaikan Kiai. Dan kami generasi muda semoga senantiasa diberi kekuatan Allah untuk mampu meneladani. Amin

 

Fathurrochman Karyadi, santri di Pesantren Al-Hamidiyah Depok.