Sekolah Al-Hamidiyah
Berita
Home / Berita

Sastra, Islam, dan Keragaman Nusantara

Minggu, 14 November 2021 Oleh admin 956 kali

Rabu malam, 29 September 2021. Dalam acara Literature & Ideas Festival (LIFEs) 2021, yang diselenggarakan secara hybrid, Prof. Dr. Oman Fathurahman, M.Hum (Kiai Oman), Pengasuh Pesantren Al-Hamidiyah Depok menyampaikan ceramah mengenai Kitab dan manuskrip karya Muslim Nusantara, yang khususnya ditulis sejak abad 16. Kitab dan manuskrip tersebut menjadi bukti betapa luhur peradaban Islam dan tradisi tulis masyarakat Nusantara.

Beliau menjelaskan bahwa peradaban Islam Nusantara terbentuk berkat adanya interaksi dan dialog yang sangat intens pada masa lalu.

“Peradaban Islam Nusantara itu lahir berkat saling-silang hubungan antara Muslim Nusantara dengan dunia Muslim global. Ini menunjukkan bahwa Muslim Nusantara adalah bagian tak terpisahkan dari dunia Islam secara keseluruhan”, tegas Kiai Oman.

Dalam ceramahnya juga, beliau memaparkan bahwa dialog antara Muslim Nusantara dengan dunia Islam global itu sendiri tidak pernah terjadi satu arah, melainkan saling mempengaruhi, saling berinteraksi, saling tukar gagasan, saling memberi dan saling menerima.

Menurut Kiai Oman, salah satu gagasan penting yang lahir dari rahim peradaban Islam Nusantara adalah ajaran tasawuf, yang menegaskan tauhid hakiki, keyakinan bahwa Tuhan adalah Wujud Tunggal, Wujud Mutlak, Wujud yang Wajib, dan bahwa keseluruhan alam semesta ini merupakan pancaran belaka dari wujudnya.

Meski tidak diajarkan disemua pesantren, menurut beliau, nilai-nilai tasawuf sesungguhnya lahir dari rahim pesantren, diampu dan didakwahkan oleh para kiai pengasuhnya, serta diterjemahkan menjadi ajaran akhlak, baik akhlak kepada diri, kepada sesama, kepada alam, dan terutama akhlak kepada Sang Pencipta.

Menutup ceramahnya, Kiai Oman mengajak audiens berefleksi dengan membacakan bait-bait indah serupa puisi:

Tasawuf adalah pengetahuan hakiki, pemikiran para sufi mengajarkan hubungan sejati manusia dengan ilahi Rabbi. Dalam pandangan tasawuf, kita semua adalah khalifahNya, dan dimuka bumi kita bayangannya. Tugas kita adalah mewujudkan kemaslahatan, bukan kerusakan. Dalam tasawuf, Tuhan adalah Wujud Hakiki yang Ada, Alam beserta isinya adalah pancaran Wujudnya. Kalau semua keragaman kita adalah cermin diriNya, mengapa masih harus ada saling mencela? Mari saling mencinta


Photo by: Courtesy YouTube Salihara Arts Center

https://youtu.be/2XSY2qu2p8s


#pesantrenalhamidiyahdepok #ceramahonline #islamnusantara #sastraislam #salihara