Yayasan Islam Al-Hamidiyah
Home > Berita
Berita

Khataman Ngariksa, Santri Al-Hamidiyah Depok Dikenalkan Pada Turats Ulama Nusantara

Senin, 17 Oktober 2022 Oleh Kajis 739 kali

DEPOK - Para santri Pesantren Al-Hamidiyah Depok tampak antusias berkumpul di dalam kelas. Dengan sarana proyektor, mereka menyimak tayangan NGARIKSA “Ngaji Manuskrip Kuno Nusantara” yang diinisiasi oleh Kepala Pengasuh Pesantren Al-Hamidiyah Depok, Prof. Dr. K.H. Oman Fathurahman, M.Hum. Dari acara daring ini, Kiai Oman mengenalkan Turats Ulama Nusantara kepada Santri Al-Hamidiyah dan masyarakat luas (Jumat, 9/9/22). 

 

Kini Ngariksa sudah mencapai episode 75. Di episode inilah Kiai Oman mengkhatamkan pembacaan manuskrip Zubdatul Asrar karya ulama besar Nusantara abad 17, Syekh Yusuf al-Taj al-Makassari asal Gowa Sulawesi Selatan. 

 

 




"Sobat Ngariksa, ada awal ada akhir, ada mukaddimah ada khatimah. Malam ini kita selesaikan pembacaan manuskrip Zubdah. Syekh al-Makassari menulisnya tiga ratus enam puluh tahun lalu, para murid menyalinnya seabad kemudian, Ngariksa mengkhatamkan di era kekinian," ungkap Kiai Oman. 


Pengampu Ngasuh atau Ngaji Bersama Pengasuh ini juga menegaskan, Al-Makassari seorang paripurna; beliau bukan sufi yang menyendiri, tidak menjauhkan dari urusan duniawi. Dari Gowa Sulawesi Selatan, beliau berilmu di Haramayn, berkhidmat menegakkan keadilan di negeri Banten, sehingga diasingkan, di-Ceylon-kan, dan menghadap Sang Pencipta di Cape Town Afrika Selatan. 


 



"Menutup Zubdah, al-Makassari mengakhiri, bahwa hamba boleh sibuk duniawi, namun hati tetap lillahi. Sampai jumpa di episode berikutnya. Salam Ngariksa!" tutur Guru Besar Filologi Fakultas Adab dan Humaniora UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini.

 

Banyak yang mengapresiasi terobosan Kiai Oman mengaji manuskrip secara daring ini, di antaranya Wakil Presiden (Wapres) Prof. Dr. (H.C.) K.H. Ma’ruf Amin. 




 

“Tayangan NGARIKSA adalah terobosan baru di era digital yang membuktikan kepada kita bahwa manuskrip kuno bisa dikaji dengan asyik, bahkan dinikmati oleh audiens milenial. Ini merupakan salah satu kegiatan mengkaji kekayaan literasi nusantara yang disiarkan secara daring melalui media sosial,” ujar Wapres K.H. Ma’ruf Amin dalam testimoninya secara virtual. 

 

Selain Prof. Dr. (H.C.) K.H. Ma’ruf Amin  ada juga Imam Adam Yusuf Philander (Imam Masjid Nurul Latief, Cape Town, Afrika Selatan), H. Muhammad Amin Sahib, Lc., M.Ag, Dra. Hj. Muzdalifah Sahib, Ph.D, (keduanya keturunan Syekh Yusuf al Makassari), Prof. Dr. Nabilah Lubis (Guru Besar dalam bidang Filologi dan Sastra Arab di Fakultas Adab UIN Syarif Hidayatullah Jakarta), Prof. Dr. Azyumardi Azra, CBE (Guru Besar Sejarah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta), dan  Prof. Ronit Ricci, Ph.D. (Guru Besar Hebrew University of Jerusalem).


Foto: Tim Kajis

Pewarta: Atunk

Archive