Yayasan Islam Al-Hamidiyah
Home > Berita
Berita

Pengajian Khataman Ayyuhal Walad (4): Amalkan Ilmu sebagai Bekal Akhirat

Senin, 03 April 2023 Oleh Kajis 897 kali

DEPOK – Pengajian khataman Ayyuhal Walad pada hari keempat diisi oleh Kepala Pengasuh Pesantren Al-Hamidiyah Depok, Prof. Dr. K.H. Oman Fathurahman, M. Hum. Santri putra dan putri memenuhi area Masjid Jami’ Al-Hamidiyah baik di lantai bawah, atas, maupun membran masjid (Kamis, 30/03/2023)

Pada pengajian kali ini, Kiai Oman memulai dengan tulisan Al-Imam Al-Ghazali yang artinya, “Hiduplah sesukamu karena pada akhirnya kamu akan meninggal. Cintailah apa pun semaumu, karena sesungguhnya itu akan meninggalkanmu. Beramalah sekehendakmu, karena semua akan ada balasannya”.

“Para santri hendaknya mengingat kalimat ini bahkan kalau bisa ditulis dan ditempel di tempat tidur agar selalu ingat bahwa hidup seperti apa pun yang kita jalani pada akhirnya akan berujung pada kematian. Pilihan hidup akankah menjadi santri yang saleh dan taat atau tidak, semua akan berakhir pada kematian. Akankah kita menjadi ahli surga atau ahli neraka semua kembali pada diri masing-masing,” ungkap Kiai Oman.



Kiai Oman juga menjelaskan bahwa pilihan untuk mencintai sesuatu kembali pada pilihan masing-masing. Pilihan untuk menghormati orang tua atau tidak, menghormati guru atau tidak, mencintai harta atau tidak pada waktunya semua akan pergi meninggalkan kita. 

“Pilihan apa pun yang kita lakukan akan ada balasannya. Pilihan untuk melakukan Salat Tarawih dan membaca Al-Qur’an ataupun meninggalkannyasemua akan ada balasannya Pahala yang diterima tentu saja berbeda antara yang rajin dan yang malas. Sesuai dengan pesan yang disampaikan Al-Imam Al-Ghazali, beramalah sesukamu karena semua akan ada balasannya,” tutur  Guru Besar Filologi Fakultas Adab dan Humaniora Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta itu.

Penjelasan selanjutnya disampaikan bahwa ilmu yang dipelajari baik itu ilmu kalam, ilmu khilafiyah, ilmu kedokteran, ilmu farmasi, ilmu sastra, ilmu nahwu dan ilmu sharaf akan sia-sia bila kita tidak diamalkan. 


Dalam Ayyuhal Walad, Al-Imam Al-Ghazali mengatakan bahwa Kitab Injil yang diturunkan kepada Nabi Isa AS disebutkan “Sejak mayit diletakkan di keranda hingga diletakkan di pinggir kubur, Allah menanyakan kepadanya empat puluh macam pertanyaan” permulannya ialah Allah berfirman “Wahai hamba-Ku, kamu telah mensucikan pandangan ke arah makhluk selama bertahun-tahun. Dan kamu tidak mensucikan tempat pemandangan-Ku walaupun sesaat, kenapa engkau berkhidmat kepada selain aku padahal semua kebaikanmu berasal dari-Ku, apakah kamu tuli?”

“Ilmu tanpa amal adalah suatu kegilaan dan amal tanpa ilmu takkan terwujud,” tambah Kiai Oman membacakan nasihat Al-Imam Al-Ghazali. 

Kiai Oman beberapa kali menekankan mengenai kata “la yakunu” pada kalimat tersebut. Pesan yang beliau sampaikan bahwa segala amal yang kita lakukan apabila dikerjakan tanpa ilmu semua akan sia-sia, tidak akan ada artinya. 

Dari pengajian ini dapat dipahami bahwa ilmu dan amal adalah sesuatu yang tidak dapat dipisahkan. Seseorang tidak bisa hanya mencari ilmu tanpa mengamalkannya atau bahkan mengamalkan sesuatu padahal tidak mengetahui ilmunya.  Karena hanya dengan ilmu, seseorang tidak akan menjauhkan dirinya dari kemaksiatan di dunia, dan tidak membawanya melakukan ketaatan, itu semua tidak akan menjauhkan diri di hari kemudian dari Neraka Jahannam. 



Al-Imam Al-Ghazali mengingatkan, “Jika engkau tidak beramal dengan ilmumu pada hari ini dan tidak memperbaiki hari-hari yang telah kamu lewati, maka kamu akan berkata pada hari kiamat “Kembalikanlah aku ke dunia agar di sana aku dapat beramal saleh”. Maka dijawab oleh malaikat, “Hai dungu, dari sanalah kamu datang!”. 

Akhir dari pengajian ini Kiai Oman mengingatkan kepada para santri bahwa rumah masa depan bagi kita semua adalah “kuburan”. Beliau menyampaikan pesan dari Al-Imam Al-Ghazali untuk menjadikan cita-cita dalam keluhuran jiwa, melemahkan hawa nafsu, dan menjadikan kematian itu hanya pada raga, maka takutlah jika kita tidak sempat bahkan sama sekali tidak membawa bekal.  

Kiai Oman bercerita mengenai seorang ulama bernama Imam Hasan Al-Bashri (w. 110 H), bahwa beliau pernah diberi segelas air dingin lalu beliau memegang gelas berisi air tersebut dan kemudian beliau pingsan. 

Saat Imam Hasan Al-Bashri tersadar ditanyalah, “Kenapa tadi engkau jatuh pingsan?” Beliau menjawab, “Aku teringat harapan ahli Neraka ketika bertemu ahli Surga yakni mereka berkata, “Berikanlah kepada kami dari sedikit air  atau apa saja yang telah diberikan Allah kepada kamu”. Hanya dengan segelas air minum, Al-Bashri teringat kepedihan Neraka.


Pewarta: Linda Novita Sari

Foto: Kominfo Pesantren


Galeri Foto: