Yayasan Islam Al-Hamidiyah
Home > Berita
Berita

Pengajian Khataman Ayyuhal Walad (7): Delapan Faedah Ilmu dan Kebahagiaan dari Kaum Sufi

Senin, 10 April 2023 Oleh Kajis 1475 kali

DEPOK – Kegiatan khataman Ayyuhal Walad karya Al-Imam Al-Ghazali yang diadakan setiap sore di Masjid Jami’ Al-Hamidiyah pada hari ketujuh diisi oleh KH. Abdul Rasyid Marhaly, Lc. Wakil Kepala Pengasuh bidang Pembinaan Santri dan Peribadatan Pesantren Al-Hamidiyah Depok ini menerangkan tentang empat perkara yang wajib dimiliki para penuntut ilmu (Selasa, 4/4/2023).

“Keempat perkara itu ialah, keyakinan yang benar, tidak ada kesesatan di dalamnya. Kedua, taubat nasuha, yaitu taubat yang tidak akan kembali kepada kesalahan yang telah lalu. Ketiga, meminta ridha dari orang yang pernah bermusuhan sampai benar-benar tidak ada lagi yang bermusuhan. Keempat, belajar ilmu syari’ah yang mencakup perintah-perintahnya Allah dan ilmu-ilmu lain yang bisa membawa kita kepada keselamatan,” ungkap Kiai Rasyid.  

Beliau juga menceritakan bahwa ada seorang ‘alim bernama Syibly. Beliau berkhidmat kepada 400 guru dan telah membaca 4.000 hadits. Kemudian beliau memilih satu hadis untuk diamalkan dengan khusyuk dan menemukan kebahagian dan keselamatan dari hadis tersebut, seakan-akan hadis itu mencakup semua ilmu didalamnya. 


Hadits itu jika diterjemahkan ialah, “Beramallah untuk duniamu selama engkau tinggal di sana dan beramallah untuk akhiratmu sebanyak masa tinggalmu. Beramallah untuk Allah sekadar kebutuhan kepada-Nya dan beramallah bagi neraka sekedar kesabaranmu menghadapinya”.

“Dari hikayat di atas kita mengetahui bahwa mengamalkan satu ilmu lebih baik untuk mendapat kebahagiaan dan keselamatan daripada ilmu yang banyak tapi tidak diamalkan,” nasehat Kiai Rasyid. 

Dalam hikayat lain, lanjut Kiai Rasyid membacakan kitab Ayyuhal Walad karya Al-Imam Al-Ghazali, diceritakan bahwa Hatim Al-Ashom berguru kepada Syaqiq Al-Balkhiy. Sang Guru bertanya, “Engkau telah menemaniku selama 30 tahun, apa yang engkau dapat?” Lalu Hatim menjawab, “Aku mendapat delapan faedah dari ilmu  yang cukup untuk kebahagian dan keselamatanku”.

“Faedah pertama, aku melihat kepada orang-orang lalu aku melihat setiap dari mereka mempunyai kekasih yang dicintainya. Sebagian dari kekasih itu ada yang menemaninya hingga saat menderita penyakit yang menyebabkan kematian. Sebagian lainnya ada yang menemaninya hingga sampai ke tepi kubur. Kemudian semuanya kembali dan meninggalkannya sendirian tidak ada yang ikut masuk bersamanya di dalam kuburnya.

“Lantas aku berpikir, “Sebaik-baik kekasih adalah yang mengikuti masuk ke dalam kubur dan memberi ketenangan di dalamnya. Hal itu tidak aku jumpai selain amal perbuatan yang baik (amal saleh).” Maka amal salehlah yang aku jadikan kekasih supaya menjadi pelita dalam kuburku, memberi ketenangan, dan tidak meninggalkanku sendirian. Jadi, sebaik-baiknya kekasih adalah dia yang menemani kita sampai di dalam kubur, yaitu amal-amal yang saleh. 

Faedah kedua, aku melihat kebanyakan manusia hanya mengikuti dan memperturutkan kehendak nafsunya saja untuk memenuhi segala keinginannya. Maka aku memperhatikan firman Allah, “Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya).” (Q.S. An-Nazi’at: 40-41).

“Dari ayat itu aku telah yakin bahwa Al-Qur’an adalah benar, maka aku siapkan diriku untuk memerangi hawa nafsuku dan berjihad untuk tidak menuruti hawa nafsuku hingga aku taat sepenuhnya kepada Allah.

“Faedah ketiga, aku melihat manusia suka mengumpulkan kesenangan duniawi, menahan, dan mencengkeramnya. Maka aku memperhatikan pada firman Allah: “Apa yang di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal.” (Q.S. An-Nahl: 96).

“Oleh karena itu, aku segera keluarkan harta simpananku selama ini untuk mencari ridha Allah. Dan aku bagi-bagikan kepada orang-orang miskin, supaya harta itu kelak menjadi simpananku di sisi Allah.

“Faedah keempat, aku melihat sebagian orang merasa bangga bahwa kemuliaannya terletak pada banyaknya golongan dan keluarga. Sebagian beranggapan bahwa kemuliaan itu terletak pada banyaknya harta dan anak, lalu mereka pun membanggakannya. Sebagian yang lain beranggapan bahwa kemuliaan dan ketinggian martabat berada dalam perilaku yang lazim, keserakahan, dan pertumpahan darah sesama manusia. 

“Bahkan ada pula yang berkeyakinan bahwa kemuliaan dan ketinggian martabat terletak pada keborosan, pesta pora, dan menghambur-hamburkan harta benda. Maka aku merenungkan firman Allah SWT, “Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah jalah orang yang paling bertaqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Q.S. Al-Hujurat: 13). Maka aku memilih takwa dan berkeyakinan bahwa Al-Qur’an adalah betul, sedangkan dugaan mereka adalah salah dan akan lenyap.

“Faedah kelima, aku melihat sebagian orang mencela sebagian yang lainnya. Mereka pun saling menggunjing satu sama lain. Hal yang demikian itu ternyata adalah sifat iri hati dalam harta, kedudukan, dan ilmu Maka aku merenungkan firman Allah SWT, “Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia.” (Q.S. Az Zukhruf: 32). Maka aku mengerti bahwa pembagian kehidupan itu ketentuan dari Allah SWT sejak zaman azali. Akhirnya aku tidak mau hasad kepada seseorang dan aku rela dengan pembagian kehidupan dari Allah SWT.

“Faedah keenam, aku melihat manusia saling bermusuhan karena berbagai sebab dan tujuan. Maka aku merenungkan firman Allah SWT, “Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu anggaplah ia musuh(mu).” (Q.S. Fathir: 6). Maka aku mengerti bahwa bermusuhan itu tidak diperbolehkan kecuali dengan setan.


“Faedah ketujuh, aku melihat banyak manusia yang bekerja keras memburu harta sampai-sampai mereka terjerumus pada perbuatan haram ataupun syubhat. Mereka telah menghinakan dirinya. Aku pun merenungkan firman Allah SWT, “Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya.” (Q.S. Hud: 6) Maka aku mengerti, rezeki itu berada pada kekuasaan Allah semata. Dialah yang menanggung semua masalah rezeki. Karena itu aku bangkit memelihara ibadahku kepada-Nya dan aku buang jauh-jauh rasa tamak.

“Faedah kedelapan, aku melihat kepada setiap orang menggantungkan dirinya kepada sesama makhluk. Sebagian dari mereka ada yang menggantungkan dirinya pada yang dinar dan dirham, sebagian yang lain pada harta dan hak milik, sebagian lagi ada yang bergantung dengan pekerjaan dan keahlian, dan sebagian pula ada yang bergantung kepada sesama manusia. 

“Maka aku kembali merenungkan firman Allah SWT, “Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (Q.S. Ath-Thalaq: 3). Oleh karena itu aku bertawakkal kepada Allah. Sebab hanya Dia-lah yang dapat mencukupi segala kebutuhanku. Hanya Allah-lah sebaik-baik pelindung.”

Setelah mendengar penjelasan Hatim, maka Syaqiq berkata, “Semoga Allah memberimu Taufiq. Aku telah memeriksa Taurat, Zabur, Injil, dan Al-Qur’an. Ternyata, keempat kitab itu, berisi delapan faedah ini. Maka mereka yang mengamalkannya, maka ia telah mengamalkan keempat kitab suci ini.”


Pewarta: Mawan Hardika, Wakil Ketua Ta’mir Masjid Jami’ Al-Hamidiyah masa khidmat 2022-2023

Foto: Linda



Archive